Tampilkan postingan dengan label Sekilas Tentang Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekilas Tentang Aceh. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Oktober 2012

Asal-Usul Emas Pada Tugu Monas


Banyak mungkin dari kita yang belum mengetahui asal muasal emas yang berada di puncak tugu Monas. Ya, memang sebenarnya emas tersebut adalah sumbangan dari salah satu anak bangsa Indonesia yang terkaya pada era pemerintahan Soekarno.

Siapakah tokoh tersebut? Dan mengapa selama ini sejarah dengan sengaja menutup-nutupinya? Bukankah hal tersebut merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk disampaikan kepada para penerus bangsa Indonesia?

Emas seberat 38 kg yang berada di puncak tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari "Teuku Markam", salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya di Indonesia.

Sebagian besar orang hanya tahu, bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun, tak banyak yang tahu, bahwa Teuku Markam lah saudagar Aceh yang dimaksud.

Baru hanya segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini yang diketahui. Karya-karya lainnya yang harus dicatat di dalam sejarah Indonesia, yaitu ia turut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia, dan masih banyak lagi bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang sudah sepantasnya dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Markam pada legenda.

Pada zaman Orde Baru (Orba), karyanya yang terbilang monumental, adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan, dan lain-lain, adalah karya lain dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia. Sampai sekarang pun, jalan-jalan itu masih tetap awet.

Teuku Markam pernah memiliki sejumlah kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, Palembang, dan Surabaya. Ia pun tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor plat baja, besi beton, sampai senjata untuk militer Indonesia.

Mengingat peran yang begitu besar dalam percaturan bisnis dan perekonomian Indonesia, Teuku Markam pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan pemerintahan Soekarno. Peran Markam menjadi runtuh seiring dengan berkuasanya pemerintahan Soeharto.

Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat PKI. Harta kekayaannya diambil alih begitu saja oleh Rezim Orba. Pernah mencoba bangkit sekeluar dari penjara, tapi tidak sempat bertahan lama. Tahun 1985 ia meninggal dunia. Aktivitas bisnisnya ditekan habis-habisan.

Ahli warisnya hidup terlunta-lunta, sampai ada yang menderita depresi mental. Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tidak pernah direhabilitir. Anak-anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya upaya yang ada, dan memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Teuku Markam. Hingga kini, ahli waris Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.


Segelintir Kisah Tentang Teuku Markam


Teuku Markam turunan uleebalang, dan lahir pada tahun 1925. Ayahnya bernama Teuku Marhaban. Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu, Aceh Utara. Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban meninggal dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat).

Teuku Markam tumbuh menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang), dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI), dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin, dan lain-lain.

Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis.

Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia.


Kedekatannya Dengan Bung Karno


Adalah Gatot Soebroto pula yang pertama kali mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Waktu itu, Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha pribumi yang betul-betul mampu menghendel masalah perekonomian Indonesia.

Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan mendirikan PT. Karkam. Ia sempat bentrok dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam Iskandar Muda), karena 'disiriki' oleh orang lain. Akibatnya, Teuku Markam ditahan dan baru keluar tahun 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan oleh Sjamaun Gaharu.

Keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta dengan membawa PT. Karkam. Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI untuk mengelola pampasan perang dan dijadikan sebagai dana revolusi.

Selanjutnya, Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset, berupa : kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, dan Surabaya.

Bisnis Teuku Markam semakin luas, karena ia juga terjun dalam ekspor - impor dengan sejumlah negara, antara lain : mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja, dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden.

Komitmen Teuku Markam, adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat, serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot habis-habisan oleh Soekarno.


Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi sumber APBN, serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Sebagaimana kita ketahui, bahwa proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia saat itu.

Peran Teuku Markam dalam menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika pun tidak kecil, berkat bantuan sejumlah dana yang dikumpulkannya untuk keperluan KTT saat itu.

Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain, seperti : Menteri PU Ir. Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo, dan lain-lain.

Pada zaman Soekarno, nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno.


Penindasan Pada Masa Orba


Sejarah kemudian berbalik. Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tiada artinya di mata pemerintahan Orba. Ia difitnah sebagai PKI, dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme.

Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama, ia dimasukkan ke rumah tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba Jln Percetakan Negara. Lalu, dipindah lagi ke tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur.

Pada tahun 1972, ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun.

Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto, membuat hidup Teuku Markam menjadi sulit dan prihatin. Ia baru bebas tahun 1974. Ini pun kabarnya, berkat jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya.

Teuku Markam dilepaskan begitu saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orba. "Memang betul, saat itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak-haknya. Tapi waktu itu ia kan tertindas dan teraniaya," kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku Markam.

Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966, mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah, dan lain-lain, yang kemudian dikelola PT. PP Berdikari yang di dirikan Suhardiman untuk dan atas nama pemerintahan RI.

Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang terakhir ini adalah tokoh Aceh di Jakarta), termasuk teman-teman Markam. Namun, tidak banyak menolong mengembalikan asset PT. Karkam. Justru mereka ikut mengelola aset-aset tersebut di bawah bendera PT. PP Berdikari.

Suhardiman adalah orang pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur tertera Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya, PP Berdikari dipimpin Letjen. Achmad Tirtosudiro, Drs. Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin, SH.

Pada tahun 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0. 31 Tahun 1974 yang isinya antara lain, penegasan status harta kekayaan eks PT. Karkam/PT. Aslam/PT. Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966, yang berstatus 'pinjaman', yang nilainya Rp411.314.924,29,- sebagai penyertaan modal negara di PT. PP Berdikari. Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan.


Proyek Bank Dunia


Sekeluarnya dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT. Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi, tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT. Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, mau diresmikan oleh pemerintahan Soeharto.

Proyek PT. Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan Bireuen - Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT. PIM, dan lain-lain. Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam 'dianggap' angin lalu.

Teuku Markam meninggal tahun 1985, akibat komplikasi berbagai penyakit di Jakarta. Sampai akhir hayatnya, pemerintah tidak pernah merehabilitasi namanya. Bahkan sampai sekarang.



Jika sobat ingin mengkopas atau memperbanyak artikel di atas silahkan saja, karena blog ini memang khusus diciptakan untuk berbagi. Terima kasih telah Berkunjung, Semoga Artikel diatas bermanfaat. . .

Jangan lupa tinggalkan JEMPOL dan KOMENTAR anda sebagai oleh-oleh. . .^^

Cut Nyak Dhien; Sebuah Akhir di Tanah Sepi

cut nyak dhien
Cut Nyak Dhien
Tanggal 11 Desember 1906, Pangeran Aria Suriaatmaja, Bupati Sumedang waktu itu, kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan dari pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta, rabun serta menderita encok. Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara. Melainkan memilih menempatkannya disalah satu rumah milik tokoh agama setempat. Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta dan menderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 08 November 1906 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan tua itu.

Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang diketahui penduduk, karena kesehatannya yang sangat buruk perempuan tua itu nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung.

Sesekali mereka membawakannya pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu yang belakangan karena penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama disebut dengan Ibu Perbu. Waktu itu tak ada yang menyangka bila perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah The Queen of Aceh Batlle dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Ya, hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari tanah air dan orang-orang yang dicintai.

Gadis kecil cantik dan cerdas bernama Cut Nyak Dhien. Dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Lampadang tahun 1848. Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teeku Nanta Setia yang merupakan keturunan perantau Minang yang datang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.

Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Pada usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII. Dari perkawinannya itu belakang dia dikarunia seorang anak laki-laki.

Suasana perang yang bergelanyut diatmosfir Aceh pecah ketika 1 April 1873, F.N. Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh. Dan Tjoet Nyak Dhien tentu ada disana, ditengah tebasan rencong, pekik perang dan dentuman meriam.

Dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan di bakar tentara Belanda.


“Lihatlah wahai orang-orang Aceh!! Tempat ibadat kita dirusak!! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?”

Perang Aceh adalah cerita tentang keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir, begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap harinya waktu dihabiskan untuk berperang, berperang dan berperang melawan Kapke Ulanda.Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Gle Tarum 29 Juni 1070. Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.

Tetapi bagi Tjoet, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, Teuku Cek Ibrahim Lamnga suaminya bukan juga monopoli Teeku Nanta Setia ayahnya atau para lelaki Aceh saja. Perang Aceh adalah milik semesta rakyat. Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak Dhien, dia tetap mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.

Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiaran putri bangsawan itu hanya dicurahkan pada perang. Berpindah dari satu persembunyian ke persembunyian yang lain, kurang makan dan kurangnya rawatan kesehatan membuat kebugarannya merosot. Kondisi pasukannyapun tak jauh berbeda. Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada pada 16 November 1905 sepasukan Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya, Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak.

Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan Tjoet memang tak bisa berbuat banyak. Rencongpun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya, Tjoet tertangkap dan dibawa ke Banda Aceh lalu dibuang Sumedang, Jawa Barat.



Jika sobat ingin mengkopas atau memperbanyak artikel di atas silahkan saja, karena blog ini memang khusus diciptakan untuk berbagi. Terima kasih telah Berkunjung, Semoga Artikel diatas bermanfaat. . .

Jangan lupa tinggalkan JEMPOL dan KOMENTAR anda sebagai oleh-oleh. . .^^

Kekuatan Magis dalam Gerak Tarian Aceh; Saman


Zaman sekarang bisa dikatakan tidak ada orang yang tidak mengenal tari Saman. Hampir semua orang mengenalnya baik yang berada didalam maupun di luar negeri. Dalam setiap penampilannya tari Saman sungguh memukau. Dari awal hingga akhir pertunjukan tarian ini selalu menghadirkan suasana magis baik bagi penari maupun penontonnya.


Saya akan coba membawa anda semua masuk kedalam babak demi babak dalam tari saman. Pada awal pertunjukan tarian saman di mulai dengan persalaman. Persalaman ini terdiri dari rengum dan salam. Rengum adalah suara bergumam dari seluruh penari. Walau tak terdengar jelas tetapi sebenarnya mereka memuji dan membesarkan nama Allah SWT dengan lafaz;

Hmm laila la ho
Hmm laila la ho
Hmm tiada Tuhan selain Allah
Hmm tiada Tuhan selain Allah


Bila anda menyaksikan pementasan tarian Saman ini, anda akan terdiam seketika saat mendengar gumaman para penari dan ikut larut bersama emosi para penarinya. Rengum ini diucapkan dengan suara rendah namun menggema. Menggetarkan panggung dan jiwa-jiwa penari dan penontonnya. Bagi yang pernah menonton pertunjukan Saman tentu tahu maksud saya. Suasana hening langsung tercipta saat itu. Penonton diajak untuk ikut hikmat dalam mentauhidkan Tuhan.

Gerak tarinya sendiri masih sangat terbatas dan sederhana. Kepala tertunduk dan tangan bersikap sembah. Regum menunjukan penyerahan diri kepada Allah SWT, juga berperan menyamakan vokal dan konsentrasi. Setelah tercipta suasana khidmat lalu dilanjutkan dengan persalaman. Ucapan salam ditujukan kepada penonton dan berbagai pihak dengan ucapan Assalamualaikum. lalu meminta izin untuk bermain Saman (adab dan etika).


Setelah persalaman barulah dilanjutkan dengan Ulu Ni Lagu. Secara harfiah ulu ni lagu berarti kepala lagu. Namun disini lebih berarti ragam-ragam gerak tari. Dalam babakan ulu ni lagu ini gerakan telah bervariasi, kesenyawaan antara gerak tangan, tepuk didada – gerakan badan dan kepala. Namun gerakan masih lamban. Suasana khidmat masih terasa disini. Bagian ini seperti pemanasan sebelum kita diajak dalam ekstase gerak cepat Saman lainnya. Lalu yang disebut sebagai syekh dengan suara melengking akan memberkan aba-aba pada saat akhir gerak ulu ni lagu yang menandakan akan segera berganti gerak dan memasuki ritme cepat dengan ucapan syair:

Inget-inget pongku – male i guncangIngat -ingat teman akan diguncang

Masuklah kita pada babak lagu-lagu. Babak ini adalah puncak gerakan tari saman. Para penari dituntut konsentrasi optimal dan stamina yang prima. Selain harus bergerak cepat babak ini juga diselingi dengan vokal bersama (derek). Gerakan yang utuh tampak pada kecepatan gerak tangan yang menghentak dada, paha maupun tepukan, gerakan badan keatas-kebawah secara serentak maupun bersilang, badan miring kekiri – ke kanan kiri serentak maupun bersilang (singkeh kuwen), gerakan kepala mengangguk cepat maupun kepala berputar dibawah (girik), maupun petikan jari. Diselingi gerakan lambat yang diawali ucapan syair dari syekh.


Demikian gerakan ini berulang-ulang antara cepat dan lambat, dengan iringan beberapa lagu. Selain penari yang terbawa dalam ekstase gerakan cepat dan kedinamisannya, para penontonpun ikut menahan nafas mengikuti pergantian gerak dan naik-turunnya ritme tarian. Bagai tersihir dalam gerak indah itu. Saya yakin saat anda menyaksikan babak ini anda tak ingin mengedipkan mata sedikitpun. Karena kecepatan dan keseragaman yang memukau itulah yang menarik anda seakan ikut dalam irama penari yang bergerak serentak.


Lalu anda diajak mengendorkan ketegangan dan mengembalikan pernafasan dalam babak Uak Ni Kemuh yang berarti secara harfiah obatnya gerak. Diiringi nyanyian sederhana dan nada rendah tidak memaksa. Apabila kondisi penari telah pulih, dimulai gerak cepat yang diawali aba-aba oleh syekh dengan ragam gerak yang lain. Pada saat gerak menggebu-gebu puncak, iringan vokal berhenti hanya terlihat gerak saja. Disini tak ada suara selain suara memukul, menghentakkan dada, tepuk tangan, meghentak paha yang di tarikan secara cepat. Anda dapat bayangkan suasana yang tercipta saat itu. Gerak cepat tanpa vokal inilah yang kemudian bagai menciptakan suasana magis bagi penari dan penontonnya.


Barulah setelah itu anda akan kembali menyaksikan gerak sederhana sebagai penutup dalam tarian saman. Dalam babak ini yang dipentingkan adalah syair, ungkapan kata, kata perpisahan, permintaan maaf kepada penonton dan pihak-pihak tertentu.


Setelah menyaksikan tari saman secara keseluruhan anda akan mendapat kesan yang mendalam terhadap tarian ini. Bisa karena kecepatan dalam membawakannya atau suasana magis yang anda rasa saat mengikuti setiap gerak dan ritme tariannya. Namun apa yang saya gambarkan masih jauh dari keindahan tari saman itu sendiri. Akhir kata saya mengucapkan “Selamat menikmati Kekuatan Magis dalam Gerak Tarian Aceh, Tari Saman”



Jika sobat ingin mengkopas atau memperbanyak artikel di atas silahkan saja, karena blog ini memang khusus diciptakan untuk berbagi. Terima kasih telah Berkunjung, Semoga Artikel diatas bermanfaat. . .

Jangan lupa tinggalkan JEMPOL dan KOMENTAR anda sebagai oleh-oleh. . .^^

Jumat, 31 Agustus 2012

Masjid-Masjid Yang Ada di Aceh



Masjid Raya Baiturrahman - Banda Aceh


Masjid Jami Lampuuk - Aceh Besar


Islamic Center Lhokseumawe





Masjid si Kutacane


Masjid Jamik Beureuneun Aceh Pidie


Masjid Jamik Simpang Ulim Aceh Timur


Masjid Al-Munawarrah Kota jantho Aceh Besar


Masjid Raya Langsa - Aceh Timur


Masjid Raya Sigli - Aceh Pidie


Masjid Raya Tapak Tuan - Aceh Selatan


Masjid Banda Aceh


Masjid Bujang Salim aceh utara


Masjid Agung Meulaboh


Jika sobat ingin mengkopas atau memperbanyak artikel di atas silahkan saja, karena blog ini memang khusus diciptakan untuk berbagi. Terima kasih telah Berkunjung, Semoga Artikel diatas bermanfaat. . .

Jangan lupa tinggalkan JEMPOL dan KOMENTAR anda sebagai oleh-oleh. . .^^

Kamis, 30 Agustus 2012

Mesjid Al-Munawwarah Jantho Aceh Besar

Kota Jantho, adalah sebuah kota kecil yang terletak di tidak jauh dari Banda Aceh, bisa ditempuh dengan kenderaan roda dua ataupun roda empat, hanya membutuhkan waktu 1,5jam dari kota Banda Aceh. Kali ini blognyayanies akan berbagi foto tentang Mesjid yang ada di Kota Jantho. Cekidot. . .

















Kota Jantho juga sangat identik dengan Kolam Ikannya. Nah, disana kita bisa mencicipi ikan hasil pancingan sendiri dengan harganya yang bervariasi, mulai dari harga yang murah sampe harga yang mahal.



Jika sobat ingin mengkopas atau memperbanyak artikel di atas silahkan saja, karena blog ini memang khusus diciptakan untuk berbagi. Terima kasih telah Berkunjung, Semoga Artikel diatas bermanfaat. . .

Jangan lupa tinggalkan JEMPOL dan KOMENTAR anda sebagai oleh-oleh. . .^^

10 Ikon Terkenal Terkait Aceh



1. Peta Aceh, adalah lambang yang menunjukkan batasan geografis pemerintahan Aceh. Areal geografis ini, menurut perjanjian Helsinki (MoU Helsinki) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka yang ditanda-tangani di luar Kota Helsinki di Finlandia pada 16 Agustus 2005, adalah merujuk pada batas yang telah ditetapkan pada 1 Juli 1956. 



2. Pintô Aceh (Pintu Aceh), adalah ukiran simetris khas Aceh yang melambangkan upaya imunitas Aceh dalam menangkal pengaruh-pengaruh budaya yang bertentangan yang datang dari luar. Ikon ini juga melambangkan universalitas Aceh sebagai warga dunia, bukan untuk bersembunyi di balik pintu itu, tetapi untuk keluar dan berbaur dengan masyarakat dunia lain dalam hubungan yang saling menguntungkan.



3. Cap Sikureung (Segel Sembilan) adalah segel Pemerintahan Kerajaan Aceh Darussalam. Pada lingkaran tengah, tertulis dalam huruf Arab adalah nama Kepala Negara (Raja/Ratu) yang sedang memerintah, pada delapan lingkaran yang mengelilinginya tertulis nama-nama Kepala Negara sebelumnya. Jadi, Cap Sikureung akan berganti seiring pertukaran pemerintahan.



4. Mesjid Raya Baiturrahman, adalah ikon keber-agamaan masyarakat Aceh. Mesjid Raya Baiturrahman terletak di Pusat Kota Banda Aceh yang dulu bernama Kutaradja. Dan telah menjadi landmark Aceh, sekaligus kebanggaan masyarakat Aceh secara umum. Ukuran masjid ini cukup besar, mempunyai menara yang tinggi dan juga balutan cat putih. Luasnya mencapai empat hektar dengan tujuh kubah, empat menara, dan satu menara induk, menjadikan masjid ini sebagai salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara. Ruangan dalamnya mencapai 4.760 m2 dan mampu menampung hingga 9.000 jemaah. Uniknya, lantai marmer di dalam masjidnya adalah buatan Italia. 

Pada masa perang melawan kolonial, Mesjid ini pernah menjadi Pusat Komando perjuangan. Ketika Belanda menguasai kota, Mesjid ini kemudian dibakar pada bulan Shafar 1290/April 1873 M. Dalam Peristiwa pembakaran ini, dikabarkan Jenderal Belanda, Kohler, tewas.



5. Kupiah Meukeutôp (Topi khas Aceh), adalah penutup kepala seperti topi, tapi tidak dipakai dalam keseharian karena lumayan berat. Kupiah ini lebih sebagai lambang kebangsawanan, sering dipakai pada acara-acara adat untuk menunjukkan kebesaran dan penghormatan pada budaya, semisal ketika seseorang melangsungkan pernikahan. Ngomong-ngomong, ini adalah pelengkap pakaian lelaki, jadi hanya pengantin lelaki (dalam bahasa Aceh disebut "Lintô Barô") yang memakai kupiah ini. :)



6. Rumoh Aceh (Rumah adat Aceh). Bahan pembuatan rumah Aceh adalah keseluruhannya kayu, tanpa menggunakan paku, tetapi digunakan pasak-pasak kayu sebagai alat yang berfungsi mirip paku. Rumah Aceh dibangun tinggi (dengan tiang-tiang penyangga) demi menghindari terjadinya masalah dengan binatang liar yang berkeliaran di malam hari, juga sebagai antisipasi ancaman banjir. Dalam rumah Aceh tidak ada bilik (kamar) khusus lelaki bujang. Para pria bujang akan menghabiskan malam di meunasah (surau).


 

7. Rincông (Rencong) adalah senjata pendek khas Aceh, seumpama keris dalam budaya Jawa dan Melayu. Rincông pada saat ini juga menjadi pelengkap busana adat Aceh pada acara-acara kebesaran dan diselipkan di pinggang bagian depan (depan perut). 



8. Genta (Lonceng) Cakra Donya, sekarang diletakkan di Musium Aceh, Banda Aceh. Lonceng yang dibawa oleh Cheng Ho ini adalah pemberian Kaisar Tiongkok, pada abad ke-15 kepada Raja Pasai. Ketika Pasai ditaklukkan oleh Aceh Darussalam pada tahun 1524, lonceng ini dibawa ke Kerajaan Aceh. Pada awalnya lonceng ini ditaruh diatas kapal Sultan Iskandar Muda yang bernama "Cakra Donya" waktu melawan Portugis, maka itu lonceng ini dinamakan Cakra Donya. Kapal Cakra Donya ini bagaikan kapal induk armada Aceh pada waktu itu dan berukuran sangat besar, sehingga Portugis menamakannya "Espanto del Mundo" (Teror Dunia). Kemudian Loncengyang bertuliskan aksara Tionghoa dan Arab (sudah tak dapat dibaca lagi aksaranya sekarang) ini diletakkan dekat mesjid Raya Baiturrahman yang berada dikompleks Istana Sultan. Namun sejak tahun 1915 lonceng ini dipindahkan ke Musium Aceh dan ditempatkan didalam kubah hingga sekarang (halaman Musium). Lonceng Cakra Donya ini telah menjadi benda sejarah kebanggaan orang Aceh hingga sekarang. Lonceng ini juga juga merupakan bukti dan simbol hubungan bersejarah antara Tiongkok dan Aceh sejak abad ke-15.



9. Pintô Khôp dan Gunongan. 

Gunongan :
Gunongan dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada abad XVII, sebagai lambang cintanya pada isterinya, Putroe Phang asal Negeri Pahang (saat ini Negara Bagian Malaysia). Gunongan ini berlokasi di Jalan T. Umar, Seutui, Banda Aceh. 

Pintô Khôp :
Pinto Khop merupakan sebuah pintu penghubung antara istana dengan taman Putroe Phang. Bangunan ini berbentuk kubah yang letaknya tidak jauh dari Gunongan. Pinto Khop dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda. Monumen yang terletak di Banda Aceh ini sekarang menjadi objek wisata sejarah di Banda Aceh.



10. Kupi (Kopi), adalah minuman khas di Aceh. Hampir setiap sudut Aceh terdapat warung kopi. Pada pertengahan 90an, saya pernah membaca sebuah tagline di sebuah t-shirt berbunyi "Banda Aceh, The City With a Thousand Coffee Shop", saya rasa, itu tidak hanya berlaku pada kota Banda Aceh saja.


Demikianlah Artikel singkat tentang 10 ikon terkenal terkait Aceh, meskipun pada dasarnya Aceh tidak hanya terbatas pada 10 ikon ini. Ada banyak objek wisata potensial yang bisa dikembangkan di Aceh untuk menjadi salah satu pengait devisa potensial, sesuai dengan nilai-nilai ke-Aceh-an yang islami tentunya.




Jika sobat ingin mengkopas atau memperbanyak artikel di atas silahkan saja, karena blog ini memang khusus diciptakan untuk berbagi. Terima kasih telah Berkunjung, Semoga Artikel diatas bermanfaat. . .

Jangan lupa tinggalkan JEMPOL dan KOMENTAR anda sebagai oleh-oleh. . .^^

5 Mesjid Aceh Yang Tidak Hancur di Terpa Tsunami Aceh 2004

Pada tanggal 26 desember 2004 silam, Aceh dilanda musibah besar yang merengut ribuan korban. Musibah itu tidak lain adalah gempa bumi dan tsunami. Semua bangunan rumah, pertokoan dan bangunan lain hancur di hempas oleh gelombang tsunami. Tetapi lain dengan bangunan mesjid. Sungguh sebuah keajaiban, mesjid tidak roboh karena gelombang tsunami tersebut. 

Ini dia 5 mesjid yang tetap berdiri kokoh walaupun dihantam oleh gelombang besar tsunami di aceh yang berhasil blognyayanies rekrut dari versi Blogger Anak Aceh yang di rangkum dalam Hotspot Aceh. 

1. Mesjid Raya Baitulrahman


Lihatlah mesjid raya yang paling terkenal di aceh, di indonesia, bahkan di dunia. pada saat gelombang tsunami datang, mesjid ini di hancur, hanya rusak di beberapa bagian bangunan saja. mesjid baitulrahman banda aceh ini merupakan bangunan bersejarah dan terkenal. 

2. Mesjid di daerah Ulelee


Mesjid ini berada sangat dekat dengan pinggir pantai. kira-kira hanya 50 meter dari pantai. tapi pada saat gelombang tsunami menghantam mesjid ini, mesjid ini tetap berdiri kokoh, berbeda dengan bangunan lainnya yang berada di samping mesjid tersebut, hancur berkeping-keping rata dengan tanah.


3. Mesjid di dearah khaju


Mesjid ini terletak di daerah khaju aceh besar. pada saat gelombang tsunami datang, mesjid ini juga tetap berdiri kokoh. mesjid ini juga tidak terlalu jauh dengan pantai. kira-kira sekitar 2 km dari tepi pantai. 


4. Mesjid lhoknga



Mesjid ini berada di lhoknga aceh besar. tetap berdiri kokoh walaupun dihantam gelombang tsunami. 


5. mesjid kecil di daerah ulele



Mesjid ini dekat dengan pantai, bangunan mesjid ini kecil dan minimalis. tapi tidak hancur karenan gelombang tsunami tersebut. lihatlah puing-puing bangunan rumah yang berada di sekitar mesjid ini. betapa dasyatnya gelombang tsunami tersebut. walaupun dasyat dan menghancurkan seluruh bangunan baik bangunan kecil ataupun besar, gelombang ini tidak menghancurkan mesjid ini. betapa besarnya kekuasaan sang pencipta itu. 



Masih banyak mesjid-mesjid lainya yang tidak hancur karena gempa bumi dan gelombang tsunami di aceh. 5 mesjid ini yang terekam dalam hotspot aceh. gambar mesjid ini didapat dari berbagai sumber. Sekarang sudah hampir 8 tahun tsunami berlalu. Tapi kenangan pahit dan rasah sedih masih melanda aceh. Meskipun sudah banyak bangunan yang dibangun kembali. Walapun kelihatan dari fisik Aceh sudah kembali, tapi dari segi hati, Aceh masih berduka. setiap tanggal 26 desember, Aceh memperingati hari tsunami. semoga aceh tidak mendapatkan musibah besar seperti itu lagi. Musibah itu meruakan sebuah teguran dan cobaan bagi masyarakat aceh, agar Aceh menjadi lebih baik dan bertaqwa kepada sang pencipta.



Jika sobat ingin mengkopas atau memperbanyak artikel di atas silahkan saja, karena blog ini memang khusus diciptakan untuk berbagi. Terima kasih telah Berkunjung, Semoga Artikel diatas bermanfaat. . .

Jangan lupa tinggalkan JEMPOL dan KOMENTAR anda sebagai oleh-oleh. . .^^

Miniatur Masjid Raya Baiturrahman ada di Taman Kota Austria



Jika Anda berniat berkunjung ke Austria, Anda akan merasakan hal yang tidak asing di sebuah taman yang dikenal dengan nama Minimundus di Klagenfurt, ibukota negara bagian Karintia. Pasalnya di taman ini anda akan menemukan miniatur Masjid raya Baiturrahman Aceh. Bangunan tersebut terlihat sangat mirip dengan aslinya.

Ternyata, Taman Minimundus adalah taman miniatur terbesar di dunia. Di sini terdapat lebih dari 150 miniatur bangunan terkenal dari seluruh penjuru dunia. Miniatur ini menggunakan skala 1:25 untuk tiap sebuah bangunan.

Jadi jika anda berada di austria tidak ada salahnya jika anda menggunjungi taman ini, Di taman ini juga anda akan menemukan beberapa miniatur yang terkenal di seluruh dunia. Selain ada miniatur masjid Raya Baiturrahman dari Aceh juga ada candi prambanan dan borobudur, Taj Mahal – India, Tembok Besar – Cina dan Sidney Opera di taman ini.

Taman ini termaksud taman yang terbesar di dunia, sehingga mampu menampung 150 miniatur bangunan terkenal di seluruh dunia. Di taman ini semua miniatur di buat persis seperti aslinya, seperti laman minimundus, Austria.



Gimana sobb ??? Bangga kan ?? Apalagi buat sobat-sobat yang dari Aceh dan juga sobat-sobat dari seluruh Indonesia pastinya.



Jika sobat ingin mengkopas atau memperbanyak artikel di atas silahkan saja, karena blog ini memang khusus diciptakan untuk berbagi. Terima kasih telah Berkunjung, Semoga Artikel diatas bermanfaat. . .

Jangan lupa tinggalkan JEMPOL dan KOMENTAR anda sebagai oleh-oleh. . .^^
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
gambar